Sabtu, 15 Oktober 2011

Boy's And Girl's Feels

Cerita ini mengisahkan tentang perasaan antara cewek dan cowok yang sebenarnya memiliki rasa yang sama. Dikisahkan dalam dua sisi berbeda, yaitu sisi girl's side dan boy's side. Jadi, kita bisa mengetahui apa yang dirasakan oleh keduanya. Let's Reading anyone. :)

-First Meet-
In Boy's Eyes,

Namaku Faris Iqbal Muhammad, teman temanku biasa memangkilku Faris. Aku adalah murid dari SMA Tunas Bangsa Surabaya kelas XI IPA. Aku bukanlah anak yang tergolong rajin di kelasku. Ya sedikit sedikit bisa lah, hahaha...

"Kemarin aku bertemu sama cewek cantik lho," kataku pada teman temanku.
"Apa kamu yakin? Kamu bertemu dimana?" tanya seorang temanku.
"Aku kemarin bertemu di persimpangan jalan depan sekolah, dan aku rasa dia juga murid di sekolah ini," kataku.
"Ah, mana mungkin. Kamu kan kenal sama semua cewek disini," canda temanku yang lain.
"Beneran aku melihat logo badge di bajunya bertuliskan SMA Tunas Bangsa kok," tegasku.
"Sudahlah jangan terlalu memikirkan cewek dulu. Pikirkan dulu pelajaranmu," ujar temanku.

Mereka benar, seharusnya aku tidak memikirkan masalah wanita dahulu. Sebab, pelajaranku masih banyak yang kocar kacir. Hah, kini aku merasa hidup ini tidak adil. Karena disaatku menyukai sesuatu pasti ada saja yang mengganggu.

-First Day-
In Girl's Eyes,

Namaku Risa Adi Wijayanti, biasa dipanggil Risa. Aku adalah murid pindahan di SMA Tunas Bangsa Surabaya. Aku baru saja pindah dari Depok karena pekerjaan ayahku. Ayahku adalah pebisnis yang sering sekali keluar kota. Maka dari itu, aku dan ibuku memutuskan pindah dari Depok menuju rumah Nenekku yang berada di Surabaya dan menetap di sana.

Ini adalah hari pertamaku sekolah di SMA Tunas Bangsa Surabaya. Aku masih belum paham jalan jalan di Surabaya. Setelah sampai di sekolah akhirnya aku bisa bernafas lega. Karena aku datang 2 menit sebelum bel masuk berbunyi. Kalau saja aku tadi tidak sampai tepat pada tujuan, pasti akan ada masalah dengan BK. Dan aku tidak mau menyusahkan ibuku.

Aku disambut baik oleh teman teman sekelasku. Mereka amatlah baik padaku, tidak berprasangka buruk, dapat langsung menerimaku sebagai temannya, membantu aku mengartikan bahasa Jawa yang tidak biasa aku dengar, dan sebagainya.

Aku pulang sendirian naik angkutan umum. Untung saja aku masih ingat apa yang ibu katakan padaku, "Nanti kalau pulang naik angkutan warna kuning, yang ada tulisannya O. Jangan tertukar dengan WB, karena berbeda jurusan. Saat hendak naik angkutan aku melihat sosok laki laki yang bisa kukatakan cukup memikat hatiku. ketika dia menatap ke arahku, aku langsung memalingkan wajahku karena malu. Entah apa yang dirasakan oleh anak laki laki itu. Mungkin dia menganggapku aneh atau sebagainya.

-Second Meet-
In Boy's Side,

Aku masih mengingat ingat kejadian 2 hari yang lalu. Hari dimana aku menemukan sesosok gadis yang dapat memikat hatiku. Tapi siapa dia. Dari badge di bajunya dia adalah murid sekolahku, tetapi aku tidak pernah melihatnya. Apakah dia murid pindahan yang diceritakan oleh teman teman. Bayang bayang itu selalu mengganggu jalan pemikiranku.

Pelajaran hari ini cukup menyenangkan. Aku akhirnya bisa memahami dengan jelas materi yang disampaikan oleh guru guruku. Setelah doa pulang sekolah dikumandangkan kami langsung terpecah sendiri sendiri. Ada yang langsung pulang, ada yang cangkruk di kantin, ada yang masih bingung dengan tugas tugasnya, dan lain lain.

Ketika aku sedang menikmati jalanku keluar dari sekolah, aku bertemu kembali dengan gadis itu. Disaat yang sama pula ada seorang temanku yang bersama dengan dia. Kusapa temanku itu, "Tania!!" Seketika temanku itu menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.

Dia pun bertanya padaku, "Ada apa Ris?"

"Aku hanya mau tanya ulangan kimiamu tadi yang keluar apa saja," tanyaku.

"Oh.. Ulangan tadi. Yang keluar hanya soal soal tentang orbital dengan hibridisasi," jelasnya.

"Oh... Makasih ya Tania," kataku sambil meninggalkannya.

Aku sempat melihat nama dada dari murid baru tersebut. "Namanya Risa ya, tapi sayang sekali tadi tidak sempat melihat wajahnya. Apakah dia benar benar anak itu atau orang lain. Bodoh... bodoh... bodoh... ," katau dalam hati.

-My Feels-
In Girl's Side,

Dua hari telah berlalu sejak aku pindah ke sekolah ini. Aku sudah mulai mengenal jalanan kota Surabaya ini. Aku juga sudah mulai mengenal teman teman sekelasku, guru guru yang mengajar di kelasku, ehm… apa lagi yah? Banyak deh.

Tepat di hari ketiga sekolahku ini aku bertemu kembali dengan cowok yang dapet meluluhkan hatiku itu. Dia sedang membicarakan masalah pelajaran pada teman sekelasku, Tania. Meskipun aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan karena aku tidak mau mengganggu mereka.

“Tan, itu tadi siapa?” kataku memulai percakapan.

“Oh.. itu tadi Faris, dari kelas sebelah. Ada apa Ris?” tanyanya.

“Oh.. tidak ada apa apa kok. Hehehe.. , “ jelasku.

“Kok rasanya ada yang aneh ya sama kamu. Jangan jangan kamu suka ya sama Faris?” godanya.

“Tidak lah. Aku saja tidak mengenalnya,” bantahku.

“Ehm… Ehm… Ada yang lagi jatuh cinta nih,” godanya lagi.

“Eh… Heh… Engga lah,” jawabku sambil tergopoh gopoh.

“Tuh kan jadi salah tingkah. Hahaha…,” katanya.

Aku hanya bisa terdiam mendengar Tania mengatakan itu, secara aku memang ada rasa dengan anak yang bernama Faris itu.

-Try-

In Boy’s Eyes

“Ah… Aku terlambat,” gumamku.

Hari ini aku bangun sedikit terlambat. Jadi aku harus cepat cepat bersiap diri. Setelah kurapikan tempat tidurku, aku langsung melesat ke kamar mandi agar tidak ada yang mendahuluiku. Setelah mandi, aku langsung memakai seragam dan tasku dan langsung berangkat dengan menggigit sebuah roti bakar yang telah disiapkan ibu untukku.

Akhirnya aku sampai disekolah tepat waktu. Untung saja angkutan umum yang aku tumpangi tadi tidak mengalami kendala. Waktu berjalan lambat karena selama empat jam pelajaran ini adalah pelajaran yang kurang kusukai. Akhirnya waktu istirahat pun tiba. Segera aku keluar dari kelas dan menuju kantin sekolah.

Arghhhh…Aku lupa uang sakuku,” gumamku dalam hati.